Artikel sederhana tentang dialisis, hemodialisis dan transolantasi ginjal

0 komentar
  Jika dengan suatu sebab, ginjal tidak dapat berfungsi   maka harus dicarikan suatu terapi pengganti, artinya menggantikan pekerjaan ginjal yang tidak berfungsi lagi, yaitu berupa dialisis (peritoneal dan hemodialisis) serta transplantasi ginjal.


Dialisis peritoneal
  
   Pada anak lebih sering dipakai  dialisis peritoneal.Peritoneum digunakan sebagai sebagai alat filtrasi  pengganti  glomerulus  oleh karena peritoneum  mengandung  kapiler dalam jumlah yang sangat  besar dan berhubungan langsung dengan ronggga peritoneum. Hubungan ini  memungkinkan  terjadinya pertukaran  antara cairan dialisat  yang dimasukkan ke dalam rongga peritoneum  dengan  kapiler-kapiler  darah yang  mengandung zat-zat toksik.


   Dikenal 2 bentuk  dialisis peritoneal  yaitu dialisis  peritoneal  klasik  dan  dialisis  peritoneal  mandiri berkesinambungan. Dialisis peritoneal  klasik dilakukan dengan  memakai  kateter yang  selalu  harus  diganti, sedangkan  dialisis peritoneal mandiri berkesinambungan  menggunakan  kateter  yang  terpasang tetap  dalam  rongga abdomen tanpa  harus  selalu  mengganti kateter seperti  cara  dialisis  peritoneal  sebelumnya. Dialisis  yang  dilakukan  bersifat sementara dan merupakan  pengobatan  peralihan  untuk  menuju transplantasi  ginjal, yang dilakukan  bila  keadaan  dan  fasilitas  memungkinkan.


Hemodialisis


   Hemodialisis berarti suatu  proses  pemisahan  zat-zat  tertentu (zat-zat toksin)  dari darah  melalui  suatu  selaput  semipermeable  yang  terdapat  dalam ginjal  buatan  yang  disebut dialyzer  dan  selanjutnya  dibuang  melalui  suatu  cairan  yang  disebut  dialisat.  Selama  hemodialisis darah  penderita  mengalir  dari  tubuh  ke dalam dialiser  (ginjal  buatan,  berupa  tabung  atau  lempeng  terdiri  dari  kompartemen  darah  dan  dialisat  yang  dibatasi  oleh  selapt  permeable)  kembali  ke  tubuh  melalui akses vena.


   Dialisis  peritoneal  lebih  sering dipakai  dibanding  hemodialisis  oleh  karena  lebih  dilaksanakan  dan  lebih  murah  dibanding  hemodialisis.


Transplantasi ginjal


   Transplantasi ginjal  berarti  ginjal dipindahkan  dari donor ke resipien. Umumnya  pada anak, dimana  ginjal baru  diletakkan pada  fossa  iliaka. Transplantasi  ginjal  merupakan  pilihan  ideal untuk  pengobatan  gagal  ginjal  terminal. Organ  ginjal  yang  ditransplantasikan  dapat  berasal  dari  donor  jenazah ( cadaveric donor) atau  dari  donor  hidup  (living donor).


   DiIndonesia  transplantasi  ginjal  pertama  dilaksanakan  pada  tahun 1977  oleh dr. Sidabutar dkk. Umur  termuda  yang  pernah mengalami  transplantasi  ginjal  di Indonesia ialah  umur 14  tahun. Di negara  maju, transplantasi  ginjal  pada  anak  dapat  dilakukan sejak  neonatus  sampai  umur  20  tahun. Ketahanan  ginjal  donor hidup (living donor grafts)  adalah 87 %  untuk 1 tahun pertama dan 68 %   untuk 5 tahun pertama. Sedangkan  untuk donor cadaver  (cadaveric grafts)  masing 72 %  dan 50 %.


Keterangan artikel :
Donor ialah orang/individu yang memberi organ/jaringan untuk transplantasi
Resipien : ialah  orang/individu  yang  menerima organ/jaringan untuk  transplantasi.
Sumber artikel :
Buku Nefrologi Anak yang diterbitkan oleh BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNHAS


Catatan : Artikel diatas berisi defenisi dasar tentang hemodialisis, dialisis peritoneal dan transplantasi  ginjal tentunya tidak hanya spesifik pada penderita anak saja, sebab terapi  yang  sama juga diterapkan untuk  orang  dewasa. Mohon dimaafkan  jika  artikelnya cukup  sederhana.

Gagal ginjal akut

0 komentar


PENDAHULUAN

       Gagal ginjal akut (GGA)  adalah  suatu  keadaan gangguan pada fungsi  ginjal yang  menurun  secara tiba-tiba dan  mengakibatkan timbulnya  gangguan  keseimbangan  air  dan  elektrolit,  asam  basa dan  tertumpuknya  bahan-bahan  sisa dalam  darah (ureum dan  kreatinin). Gagal  ginjal  akut  ini  bisa  terjadi  mulai  dari  neonatus  sampai  dewasa dengan penyebab  yang  berbeda-beda tergantung  dari  usia penderita, misalnya  GGA pada  neonatus  dapat  disebabkan oleh kelainan kongenital  ginjal  atau  saluran kemih, sepsis  atau  asfiksia neonatorum.
 
ETIOLOGI

   Pembagian  penyebab gagal ginjal  akut  terdiri  dari tiga  bagian besar  yaitu :

1. Gagal ginjal akut  prerenal 
    Gagal ginjal  akut yang  terjadi  pada bentu  ini  adalah  akibat  kurangnya  darah menuju  ke ginjal  sehingga terjadi  hipoperfusi ginjal. Hal  terakhir ini mudah  terjadi  mengingat 25 % dari  seluruh  curah  jantung  menuju ke ginjal. Hipoperfusi ginjal  dapat  disebabkan oleh :
a. Penurunan volume intravaskuler atau kehilangan darah, misalnya
   perdarahan  atau keadaan luka bakar.
b. Penurunan curah jantung misalnya : keadaan payah  jantung.
c. Seba-seba lain misalnya : sepsis dan renjatan atau dapat juga
   renjatan anafilaktik.

2. Gagal ginjal akut  renal  
      GGA renal  ini dapat disebabkan secara primer oleh penyakit dalam ginjal sendiri  maupun sekunder dari GGA  prerenal dan GGA renal.
a. Primer :    - Glomerulonefritis akut
               - Systemic lupus erythematosus
               - Polyarthritis nodusa
b. Sekunder :  - Nekrosis tubuler akut
               - Nekrosis korteks ginjal
             
3. Gagal ginjal akut postrenal
    GGA  bentuk  ini terutama terjadi  akibat  obstruksi saluran kemih, walaupun pembentukan urine oleh unit nefron cukup. Penyebab obstruksi dapat berupa batu, tumor, bekuan darah di ureter atau kelainan kongenital saluran kemih.

   Hal yang mencurigakan  kearah kemungkinan obstruksi  ialah adanya poiuri yang di ikuti oleh anuri. Pemeriksaan  fisik yang perlu  diperhatikan ialah  ada  tidaknya  hidronefrosis  yang  dapat diketahui dari palpasi  ginjal. Juga janga dilupakan palpasi  kandung kemih.

PATOFISIOLOGI

   Oleh  sebab-sebab  prerenal  seperti  misalnya dehidrasi akan menyebabkan  aliran darah  ke ginjal  berkurang, mengakibatkan  aliran darah  ke koteks juga berkurang. Yang terakhir  ini  akan  menyebabkan reabsorbsi natrium  di  tubulus  proksimal menurun  sehingga  natrium  di tubulus distalis meningkat dan  merangsang apparatus  juxta glomeruli  sehingga  memproduksi renin. Angiotensinogen   berubah menjadi angiotensin I, lalu kemudian menjadi angiotensin II  yang  menyebabkan  vasokonstriksi  arteriole afferent sehingga GFR menurun menyebabkan oligouri.

   Bila hipoperfusi ginjal ini berlangsung lama, maka akan timbul  iskemik  ginjal  yang  akhirnya menyebabkan  nekrosis tubular akut (NTA). Nekrosis tubular  akut  ini  dapat pula  disebabkan  oleh zat-zat toksik  seperti  metil alkohol, obat-obatan tertentu  (kanamisin,polimiksin)  dan zat-zat  lain  misalnya  racun  ular, Logam  berat  atau (Pb).

GEJALA-GEJALA


   Pada  umumnya GGA ini  dalam perjalanan  penyakitnya  mengalami 3 periode yaitu :


1.  Periode oligouri
       Periode ini  berlangsung 1-3 minggu. Bila  lebih  3 minggu  harus  dipikirkan  kemungkinan terjadinya nekrosis tubular  akut. Gejala klinik  yang  sering dijumpai pada  fase ini adalah :

-  Gangguan kesadaran : mulai dari bentuk disorientasi, gelisah,
   apati, letargi, depresi, somnolen sampai koma. Hal ini mungkin
   disebabkan  oleh meninginya kadar ureum dan  kreatinin darah
   (uremia)
-  Gejala gastrointestinal berupa anorexia, mual  sampai muntah.
-  Gejala kardiovaskuler berupa hipertensi, payah jantung. Hal 
   ini diduga akibat  gangguan keseimbangan air sehingga  terjadi
   hipervolemia.
-  Gangguan pernapasan berupa sesak napas,kadang-kadang napas
   berbau ureum kemudian pernapasan kusmaul karena gangguan
   keseimbangan asam basa yang menyebabkan asidosis metabolik.
-  Gejala lain dapat berupa anemia dan kejang-kejang  yang dapat
   disebabkan oleh uremia, hiperkalemia atau hipokalemia.


     Selain gejala-gejala di atas perlu pula dilakukan pemeriksaan lobaratorium   pada fase oligouri ini yaitu kadar ureum, kreatinin, kalium fosfat yang meniggi  dalam darah.


2. Periode poliuri (periode diuretik)
   Fase ini terjadi sesudah  fase oligouri dengan produksi urine lebih dari  normal  kadang-kadang mencapai 4-6 liter/24 jam. Diduga poliuri disebabkan oleh efek diuretik  ureum, dismping  kemungkinan diakibatkan pula  oleh gangguan  faal tubuli  dalam   hal  reabsorbsi air dan  natrium. Pada  masa ini pembatasan diet dan cairan tidak diperlukan lagi. Penting diketahui  bahwa pada periode ini  kehilangan cairan  dan  elektrolit bisa begitu  banyak  sehingga kemungkinan terjadinya dehidrasi  atau  gangguan keseimbangan elektrolit  perlu diperhatikan.


3. Periode penyembuhan (periode rekovalesensi)
  Penyembuhan  faal ginjal tergantung dari penyebabnya, bila  penyebabnya prerenal atau postrenal  umumnya fungsi ginjal  cepat  kembali  normal. Bila penyebabnya renal  maka penyembuhan  secara sempurna akan tercapai  sesudah 6-12 bulan. Faal ginjal  yang paling akhir menjadi normal ialah tes konsentrasi.


DIAGNOSIS

  Diagnosis GGA dapat ditegakan berdasarkan atas pemeriksaan gejala-gejala klinik dan laboratorik. Tetapi ada 3 kelainan utama  yang  mengharuskan kita  untuk berpikir  ke arah GGA  yaitu :
a. Keadaan Oligouri atau anuri.
b. Meningkatnya kadar ureum darah yaitu lebih 40 mg %
c. Dan meningkatnya kadar kreatinin darah, yaitu lebih dari
   1,5 mg %


PENGELOLAAN ATAU PENATALAKSANAAN
     Dipandang dari segi pengelolaan dini, pembagian 3 bagian besar GGA ini merupakan  pembagian yang praktis  dan sangat bermanfaat. GGA renal  merupakan  bentuk yang  terbanyak, dan nekrosis tubular akut merupakan kausa terbanyak  dari GGA  renal.


  Bila kita jumpai  penderita  GGA, yang pertama  harus disingkirkan  sebab-sebab  prerenal dan postrenal oleh karena kedua hal tersebut  dapat  diketahui dengan jelas  dan  juga  bersifat reversibel.


   Penatalaksanaan  GGA  kausa renal  lebih  sulit  mengingat  banyak  kasus-kasus  yang  bersifat ireversible  walaupun tidak  dapat disangkal  bahwa nekrosis tubular  akut  yang  merupakan  kasus-kasus terbanyak GGA  renal  dapat  sembuh sempurna.


   Bila penyebabnya  prerenal,  misalnya perdarahan, kehilangan plasma  atau dehidrasi  tentunya tindakan pertama  ialah  infus plasma  atau  ringer laktat.Bila  penyebabnya postrenal  dengan kausa obstruksi saluran kemih maka dipertimbangkan tindakan operasi.Bila kausanya renal maka tindakan  yang  harus dilakukan ialah  :


A. Pengelolaan  konservatif

1. Diet 
   Intake cairan  harus  seimbang  dengan output selama terjadi  oligouri.Elektrolit yang  diperhatikan  ialah Na dan K. Bila terjadi hiponatremi dapat diberi NaCl hipertonik 3 %  dan bila timbul  hiperkalemia diberikan Ca glukonas 10 %  atau NaHCO3 7,5 %  dan   kayexalat.


2. Mencegah infeksi
  Infeksi mudah terjadi  pada GGA, mengingat uremi dapat menyebabkan  daya tahan tubuh menurun. Oleh karena itu segala kegiatan  yang  mempunyai  resiko  untuk  timbulnya  infeksi  dihindarkan.


3. Pengobatan simptomatik
   Untuk keadaan oligouri dapat diberikan diuretik dosis tinggi  terutama furosemid oleh karena diuretik ini  memang dapat dipakai  pada keadaan fungsi ginjal yang  sangat menurun, bahkan sampai GFR serendah 2 ml/menit. Pada keadaan asidosis metabolik  dapat diberikan NaHCO3  7,5 % , bila tak berhasil dapat dilakukan dialisis. Pada hipertensi ringan dan sedang tak perlu diberi obat-obatan, oleh karena dengan istirahat yang cukup dan pembatasan Natrium dan cairan tekanan darah akan turun. Pada hypertensi berat dapat diberikan hidralazin atau clonidine.Kejang-kejang pada GGA dapat disebabkan oleh keadaan hiperkalemi, hiokalsemi atau uremi, kondisi ini dapat diatasi dengan pemberian diazepam atau fenobarbital.


B. Dialisis


   Pad prinsipnya dialisis dilakukan bila  dengan pengobatan koserfatif gagal. Dapat dilakukan dialisis peritoneal  atau hemodialisis. Pada anak lebih sering dilakukan dialisis peritoneal. tindakan ini dapat berupa  :
a. Dialisis pencegahan atau dialisis yang dilakukan sesudah 
   diagnosis GGA ditegakkan.
B. Dialisis atas indikasi tertentu :
-  Indikasi klinik misalnya Uremi (muntah, kejang dan kesadaran 
   menurun) atau overhidrasi atau asidosis berat
-  Indikasi biokimia misalnya  
    a.  ureum lebih 150 mg %
    b.  Kreatinin lebih 10 mg %
    C.  Kalium darah lebih 7 mEq/liter              
    d.  Bikarbonat kurang dari 12 mEq/liter


PENCEGAHAN


1. Segala hal yang dapat menyebabkan iskemik  atau hipoperfusi 
   ginjal sebaiknya dihindari atau sesegera mungkin dihindari
   atau sesegera mungkin dikoreksi seperti diare, dehidrasi,
   payah jantung, luka bakar, renjatan anafilaktik DLL
2. Penggunaan obat-obat yang memiliki efek nefrotoksik  harus 
   diberikan dengan dosis yang tepat.


PROGNOSIS

  Prognosis GGA  tergantung dari penyebab dan pengelolaannya. Bila penyebabnya prerenal atau postrenal  umumnya prognosisnya baik  oleh karena kausanya dapat diketahui dan dapat diatasi  dengan catatan pengelolaannya cepat dan tepat. Begitupula dengan  sebab-sebab renal dapat sembuh sempurna bila ditangani secara baik.

Sumber artikel :

     Buku Nefrologi Anak, diterbitkan oleh BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNHAS

Keterangan untuk artikel:

   Artikel di atas berisi pengetahuan dasar tentang GGA baik defenisinya,gejalanya maupun penatalaksanaanya.tentunya tidak spesifik terhadap penderita anak saja sebab keadaan yang  sama dapat diderita oleh orang dewasa, pernyataan ini dimaksudkan bahwa artikel dapat berlaku umum. Bagi mahasiswa kedokteran yang bertugas di bagian Interna dan ingin menambah referensi tugasnya, dapat juga mengakses artikel diatas.


Kehamilan ektopik terganggu

0 komentar

PENDAHULUAN

       Kehamilan  ektopik adalah suatu kehamilan dimana ovum yang telah dibuahi tidak terimplantasi ditempat yang biasa. Tetapi berimplantasi diluar endometriun kavum uteri. Bila kehamilan ektopik tersebut berakhir dengan abortus atau ruptur disebut kehamilan ektopik terganggu . Ruptur kehamilan ektopik merupaan masalah kegawat daruratan kesehatan serius, yang memerlukan penanganan yang segera dan intervensi yang agresif secara dini.

  Lebih dari 95%  kehamilan ektopik tumbuh diberbagai segmen anatomik pada tuba fallopi, termasuk bagian interstitialis, isthmus, ampularis dan infundibularis. Tempat implantasi ektopik yang lebih jarang adalah seviks rahim, ovarium dan kavum peritonium(abdominal).


EPIDEMIOLOGI

    Pada masa 20 tahun yang lalu, kehamilan ektopik dan perawatam dirumah sakit yang berkaitan dengan kehamilan ektopik tiga kali lipat lebih tinggi, dan sekarang  menjadi penyebab utama yang ke empat dari keseluruhan mortalitas ibu dan penyebab yang paling lazim dari dari mortalitas ibu dalam trimester pertama kehamilan.
 
    Dirumah sakit dr. Cipto Mangunkusumo pada tahun 1987 terdapat 153 kehamilan ektopik  diantara 4007 persalinan, atau satu diantara 26 persalinan. Dalam kepustakaan frekwensi kehamilan ektopik dilaporkan abraea 1:28 sampai 1:329 tiap kehamilan . 

  Kehamilan ektopik lebih sering didapatkan pada wanita yang berumur antara 35-44 tahun 567 dan pada wanita bukan kulit putih.

ETIOLOGI

    Etiologi kehamilan ektopik telah banyak diselidiki, tetapu sebagian besar penyebabnya tidak dapat diketahui. Tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan telur dibagian ampulla tuba, dan dalam perjalanan ke uterus telur mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih di tuba, atau nidasinya di tuba dipermudah.
 
    Beberapa faktor resiko terjaaadinya kehamilan ektopik secara umum memiliki kerja yang sama yaitu menyebabkan gangguan fungsi tuba fallopi. Hal-hal yang dapat mengganggu fungsi normal tuba fallopi akan meningkatkan rsiko terjadinya kehamilan ektopik. Gangguan ini bisa bersifat anatomik (seperti jaringan parut memblok transfor ovum, atau fungsional(seperti gangguan mobilitas pada tuba).

    Pada masyarakat umum penyakit radang panggul (PID) merupakan faktor resiko yang paling sering menyebabkan kehamilan ektopik. organisme yang sering , menyebabkan kerusakan pada tuba termasuk neisseria gonorhoeae, chlamidia trachomatis. Pada wanita dengan infeksi rongga panggul, penanganan dini tidak dapat mencegah kerusakan tuba .

    Beberapa  studi menunjukan  adanya penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (ADR) sebagai salah satu faktor resiko terjadinya kehamilan ektopik. ADR merupakan metode kontrasepsi yang efek utamanya bukan mencegah fertilisasi tetapi mencegah terjadinya implantasi, sehingga dapat dikatakan bahwa ADR merupakan metode proteksi yang baik untuk mencegah kehamilan ntra uterina dibandingkan kehamilan ekstra uterin.
 
    Adanya kehamilan ektopik sebelumnya  merupakan faktor resiko yang sighnifikan. Dengan adanya riwayat kehamilan ektopik sebelumnya yang ditangani dengan salpingostomi linear,angka rekurensi berkisar antara 15-20%. 
 
  Endometriosis, pembedahan pada tuba dan pelvis menyebabkan perlengketan pada tuba dan pelvis yang menyebabkan abnormalitas fungsi tuba .

  Beberapa anomali uterus, dengan atau tanpa paparan DES (diethylstilbesterol), meningkatkan resiko terjadinya kehamilan ektopik.
 
   Merokok mempunyai efek resiko kehamilan ektopik. Rokok diketahui mempengaruhi kerja silia pada nasofaring dan traktus respirasi. Efek yang sama dapat timbul pada tuba fallopi.
 
    Sering berganti pasangan seksual, hubungan seksual pertama kali pada umur muda dapat menjadi resiko kehamilan ektopik.

PATOFISOLOGI

    Kehamilan ektopik paling sering pada tuba fallopi. Tempat yang palingumum adalah ampukka, lebih dari 80%. Kemudian tempat yang lain adalah segmen istmus tuba (12%), fimbria (5%) dan daerah kornu dan interstitial tuba (2%). Tempat ektopik selain tuba jarang terjadi, antara lain kehamilan abdominal sekitar 1,4% dari kehamilan ektopik, sedangkan ovarium dan serviks masing-masing sekitar 0,2%.
 
   Proses inflantasi ovum yang dibuahi terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan halnya dikavum uteri. Telur dituba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Pada yang pertama telur berinplantasi pada ujung aray susa jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati dan diresorpsi. Pada nidasi secara interkolumner, telur berniodasi antara dua jonjot endosalping. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna malahan kadang-kadang tidak tampak, dengan mudah vili korialis menembus endosalping dan masuk kedalam lapisan otot-otot tuba  dengan merusaj jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor seperrti tempat inplantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi  oleh invasi trofoblas.

    Dibawah pengaruh estrogen dan progesteron dari korpus luteum graviditalis, dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek. Endometrium dapat berubah pula menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan-perubahan pada endometrium yang disebut fenomena Arias-Stella. Sel - sel  epitel membesar dengan intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler dan berbentuk tidak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang atau berbusa dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Perrubahan tersebut hanya ditemukan sebagian pada kehamilan ektopik. Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi dan kemudian dikeluarkan berkeping-keping tetapi kadang-kadang dilepaskan secara utuh. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu berasal dari uterus dan disebabkan oleh pelepasan desidua yang degeneratif.
 
     Tuba  bukan merupakan tempat untuk pertumbuhan hasil konsespsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti didalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan 6 sampai 10 minggu. Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdaat beberapa kemungkinan : 
1.Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
2.Abortus kedalam lumen tuba
3.Ruptur dinding tuba


DIAGNOSIS
    Diagnosis dapat ditegakkan melalui :

1.anamnesis.
Trias Klasik kehamilan ektopik yaitu :
a)Terlambat haid.
b)Nyeri perut supra pubik.
c)Perdarahan pervaginam berupa bercak (spotting).

  Tes kehamilan positif membantu diagnosi. Nyeri bisa dirasakan unilateral atau bilateral atau hanya perut bagian bawah. Ditemukan nyeri ketok, mingkin ringan atau berat bahkan mungkin ditemukan nyeri bahu menunjukkan bahwa pendarahan peritonium terlah mengiritasi diafragma.


2.pemeriksaan fisis.
a. didapatkan rahim yang juga membesar, adanya tumor didaerah
   adneksa
b. adanya tanda –tanda syok hipovolemik
c. adanya tanda-tanda abdominal akut
d. pemeriksaan ginekologis :
   Pemeriksaan dengan spekulum : ada fluksus sedikit


      Pada pemeriksaan dalam:
a. serviks terasa lunak
b. nyeri goyang serviks (+)
c. kanan/kiri uterus : nyeri pada perabaan dan dapat terapa massa
   tumor
d. kavum douglasi bisa menonjol, nyeri tekan (+)


3.pemeriksaan penunjang
A. Laboratorium
   Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegaakkan diagnosis KET. Penurunan hemoglobin baru terlihat setelah 24 jam. Perhitungan leukosit secara berturut menujnjukkan perdarahan bila leukositusis. Akan tetapi tes kehamilan negatif tidak menutupi kemungkinan KET karena kematian hasil konsepsi dan degenerasitrofoblas  menyebabkan produksi HCG menurun dan menyebabkan tes negatif.


B. USG
      Hasil USG berupa :
-tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri 
-adanya kantung kehamilan luar kavum uteri
-adanya massa komplek di rongga panggul.


C. Kuldo sentesi.
   Adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum douglas ada darah.


D. Laparas kopi diagnostik
   Laparaskopi hanya digunakan untuk alat bantu diagnostik diagnoastik terakhir untk kehamilan ektopik, apabila hasil prosedur yang lain meragukan.

DIAGNOSIS BANDING


   Banyak kelainan ginekologi dan non ginekologik mempunyai gejala yang sama dengan kehamilan ektopik, kelainan ginekologik
mencakup :
-abbortus imminens
-ruptur kista korpus luteum
-penyakit radang pelvis akut

 Diantara masalah nonginekologik : appendisitis akut, pielonefritis, dan pankreatitis harus dipertimbangkan.


PENANGANAN

  Penanganan kehamilan ektopik meliputi penanganan bedah dan penanganan non bedahPenaganan bedah meliputi tidakan laparatomiSalpingoktomi melalui laparatomi merupakan gold standar untuk terapi kehamilan ektopik. Laparatomi diindikasikan  dalam keadaan berikut :
1. pada semua pasien  yang menunjukkan tanda-tanda  gangguan 
   hemodinamik.
2. bila kehamilan ektopik adalah  lebih dari 3 cm dalam dimensi
   yang terbesar.
3. bila perlekatan pelvis yang luas dicurigai
4. bila terdapat kegagalan atau kekurangan perlengkapan
   laparoskopik
5. bila keterampilan endoskopik dari ahli bedah kurang optimal


  Pendekatan yang lebih baru dalam penanganan medis adalah penggunan metotreksat. Obatini diberikan secara intravena selama 8 hari, bergantian 1 mg/kg pada hari 1,3,5,7 dengan bantuan citrovorum pada hari-hari intervensi.


Kriteria kasus yang diobati dengan cara ini ialah :
1.kehamilan di pars ampularis tuba belum pecah.
2.diameter kantong gestasi kurang lebih  4 cm.
3.perdarahan dalam rongga perut kurang dari 100 ml.
4.tanda vital baik dan stabil


KOMPLIKASI

    Komplikasi terjadi akibat kesalahan diagnosis, diagnosis yang terlambat atau akibat penanganan. Kegagalan dalam menentukan diagnosis yang tepat dapat menyebabkan ruptur uterus atau tuba yang menyebabkan perdarahan yang masif, syol, disseminated intravaskular coagulopathy (DIC) dan kematian. Pendekatan bedah yang sering merupakan terapi pilihan, dapat menimbulkan komplikasi, antara lain perdarahan, infeksi, kerusakan organ-organ sekitar.


PROGNOSIS

    Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini dan persediaan darah cukup.

Osteoporosis sekunder

0 komentar
Pendahuluan
    Osteoporosis adalah suatu penyakit sistemik pada tulang yang karakteristik ditandai oleh berkurangnya massa tulang dan gangguan mikroarsitektur  jaringan tulang  yang mengakibatkan meningkatnya fragilitas dan rentang untuk mengalami fraktur.


        Dari berbagai penelitian adanya fraktur akibat osteoporosis  sekitar 20 % wanita  sebelum 65 tahun dan 40 % setelah umur 65 tahun (16).  Fraktur pada osteoporosis karakteristik ditemukan pada korpus vertebra, femur ( cervical dan intertrochanter) dan tulang radius bagian distal (10).


         Berbeda dengan osteoporosis primer yang penyebabnya tidak diketahui, osteoporosis sekunder adalah osteoporosis  disebabkan oleh berbagai keadaan atau penyakit  yang diketahui penyebabnya. Osteoporosis sekunder terdapat pada 20-35 % wanita dan 40-55 % pria dengan gejala fraktur sering ditemukan pada vertebra dua atau lebih (16).

         Mengingat banyaknya penyebab osteoporosis sekunder  maka pada naskah ini hanya akan diutarakan osteoporosis sekunder oleh karena penyakit endokrin yang dikenal dengan nama osteoporosis endokrinopati (2).

    Osteoporosis endokrinopati lakan lebih sering ditemukan pada pasien yang berumur lanjut atau pada wanita post menopause. 
 

Patogenesis osteoporosis
    Mekanisme terjadinya fraktur pada osteoporosis biasanya didahului adanya trauma yang sangat minimal kadang-kadang tanpa trauma pada  mereka yang mempunyai desnsitas tulang yang rendah. Densitas tulang yang rendah disebabkan oleh karena meningkatnya massa  tulang yang hilang dan proses pembentukan (“peak bone mass” ) yang tidak adeguat.  Proses hilangnya massa tulang maupun peak bone mass sangat dipengaruhi oleh faktor herediter (1,2,4,5,7).


        Sebaliknya hilangnya massa tulang  yang berlebihan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti, umur, menopause, faktor lokal dan faktor sporadis.

    Dalam keadaan normal  maka terjadi proses pembentukan dan penghancuran tulang yang senantiasa  seimbang sehingga tulang itu akan menjadi keras dan kuat. Proses pembentukan tulang dilaksanakan oleh sel-sel osteoblast dan penghancuran tulang dilakukan oleh sel-sel osteoklast. Berbagai hormon  berperan dalam proses pembentukan dan penghancuran tulang tersebut.  Hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid (tiroksin) dalam keadaan normal , hormon tumbuh (Growth hormon), hormon testosteron dari testis dan hormon estrogen dari ovarium  meningkatkan aktifitas osteoblast (1,2,5,14).


       Sebaliknya hormon paratiroid (HPT), glukokortikoid yang dihasilkan kelenjar adrenal dan hormon tiroksin yang meningkat akan meningkatkan aktifitas osteoklast (1).

    Bila aktifitas osteoklast lebih besar dari osteoblast maka resorpsi tulang meningkat dan ekskresi kalsium di urine meningkat. Pada keadaan ekskresi kalsium meningkat maka hormon paratiroid meningkat (hiperparatiroidisme sekunder) menyebabkan resorpsi tulang meningkat dan osteoprosis dapat terjadi (1,2,8).


        Kebutuhan kalsium diperoleh  dari makanan yang dimakan sehari-hari diserap diusus dengan bantuan HP, kalsitonin dan 1,25 (OH)2 D. Bila ada defisiensi HPT, kalsitonin dan 1,25 (OH)2 D maka absorpsi klalsium menurun , proses pembentukan tulang oleh osteoblast menurun menyebabkan osteoporosis dapat terjadi. Dapat disimpulkan bahwa osteoporosis terjadi akibat aktifitas osteoklast yang meningkat atau aktifitas osteoblast menurun (8). Dalam proses remodelling ini ada 3 hormon yang bekerja antara lain  hormon paratiroid, kalsitonin dan vitamin  D . Ketiga hormon ini bekerja pada tempat kalsium memasuki tubuh yaitu di usus, ginjal (ekskresi kalsium ) dan pada tulang untuk penyimpanan kalsium (10)


        Fraktur akibat osteoporosis biasanya dijumpai pada vertebra berupa fraktu-kompresi, panggul, dan radius bagian distal  (12,13).


    Pada osteoporosis sekunder patogenesis terjadinya kehilangan massa tulang sudah jelas misalnya akibat tirotoksikosis, hiperparatiroidisme primer, sindroma cushing,pengobatan dengan kortikosteroid jangka panjang, alkoholisme, mieloma multipel, diabetes melitus, hiperprolaktinemia dan lain-lain (1,10,14).
Faktor–faktor  yang berperan pada osteoporosis  
Genetik
    Telah terbukti peranan faktor genetik pada proses osteoporosis. Hal ini terlihat pada orang-orang kulit putih mempunyai kecenderungan osteoporosis dibanding dengan orang kulit hitam. Demikian pula orang Asia lebih banyak menderita osteoporosis. Pada beberapa keluarga tertentu lebih banyak menderita osteoporosis dibanding keluarga lainya yang tidak mempunyai riwayat keluarga osteoporosis. Dari penelitian terlihat pula orang-orang dengan postur tubuh kecil (berat badan < 58 kg) memperlihatkan kecenderungan mengalami osteoporosis pada usia lanjut dibanding dengan orang yang mempunyai postur besar (5, 6)..


Pola hidup
    Perokok mempunyai kans untuk mendapat osteoporosis 2 kali lipat dibanding dengan dengan tidak perokok.  Demikian pula kurang aktif, sering melahirkan (nullipara), aktifitas fisik yang berlebihan, menarkhe yang terlambat lebih cenderung menderita osteoporosis (6).


Faktor nutrisi
    Intoleransi terhadap susu, penduduk yang kurang menkomsumsi kalsium  dalam periode lama, alkoholisme dan komsumsi tinggi protein binatang merupakan faktor yang dapat mempercepat  osteoporosis (4,6).

Faktor penyakit
     Berbagai penyakit dapat menimbulkan osteoporosis antara lain: anoreksia nervosa, tirotoksikosis, sindroma cushing, diabetes melitus, mastositositosis, rematoid artritis, nutrisi parentral yang lama, osteogenesis impperfekta, hiperprolaktinemia, spondilitis ankilosing, anemia hemolitik, hemokromatosis, talasemia, gangguan fungsi saluran cerna dan hepato-biliar (4,6,7) .


Obat-obat
    Obat-obat yang dapat menimbulkan osteoporosis antara lain, glukokortikoid, tiroksin, obat kemoterapi, pengobatan dengan agonis atau antagonis gonadotropin,  obat anti konvulsan,diuretika, cycloporin, derivat penotiasin, tetrasiklin, antasida yang mengandung aluminium (6,7).




Penyebab Osteoporosis

     Berdasarkan penyebabnya maka osteoporosis dibagi :
        1.Osteoporosis primer
        2.Osteoporosis sekunder
Osteoporosis primer
    Osteoporosis primer adalah osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya, namun demikian beberapa faktor risiko spesifik diduga berperan dalam timbulnya osteoporosis yaitu genetik, hormon reproduktif dan pola hidup(10).. Osteoporosis primer ini dibagi :
1.    Osteoporosis tipe 1
2.    Osteoporosis tipe 2
3.    Osteoporosis juvenile
4.    Osteoporosis pada dewasa muda


Pembagian osteoporosis primer sebagaimana tersebut diatas sudah tidak dipakai lagi dalam kepustakaan baru karena osteoporosis tipe 1, maupun tipe 2 pada dasarnya penyebabnya sudah diketahui , walaupun patogenesisnya belum diketahui dengan pasti (2).


Osteoporosis tipe 1
Osteoporosis tipe 1 adalah osteoporosis yang terjadi setelah menopause sehingga disebut juga osteoporosis post-menopause. Osteoporosis ini terjadi dalam 10 tahun awal terjadinya menopause pada wanita ( sekitar 50-60 tahun ). Penyebabnya erat kaitannya dengan produksi hormon estrogen yang menurun drastis pasca menopause (8). Alasan kenapa turnover tulang meningkat dan hilangnya massa tulang yang cepat masih belum diketahui (3). Selama beberapa tahun peranan reseptor estrogen pada jaringan tulang masih diragukan ,namun penelitian terbaru membuktikan bahwa beberapa reseptor hormon seks  berlokasi dalam osteblast dari jaringan tulang (3).

Osteoporosis tipe 2
Osteoporosis tipe 2 ditemukan pada laki-laki maupun wanita yaitu pada umur 70 tahun keatas dan fraktur yang terjadi sering pada kolum femoris, humerus bagian proksimal, tibia bagian proksimal, panggul dan mengenai daerah trabekula dan korteks dari tulang (11). Penyebabnya diduga erat kaitanya dengan proses ketuaan yang menyebabkan hormon paratiroid meningkat dan vitamin D3 menurun (12).

Osteoporosis juvenile
Osteoporosis juvenile  adalah osteoiporosis yang jarang ditemukan dan penyebabnya tidak diketahui , ditemukan pada masa anak-anak sampai adolosen umumnya berkisar 8 dan 14 tahun . Perjalanan penyakit mendadak dan progresif disertai nyeri tulang dan fraktur setelah trauma yang minimal. Pada umumnya sembuh sendiri dalam 4 atau  5 tahun (8,12).
Osteoporosis usia muda
Disamping itu dikenal osteoporosis pada usia muda, jarang dijumpai dan mengenai umur 20-40 tahun., perlangsungan cepat dan progresif dan menyerang tulang aksial sehingga sering terjadi kolaps  total yang menyebabkan gangguan respirasi dan tidak jarang  berakibat fatal (8).

Osteoporosis sekunder
    Berbagai penyakit sebagaimana diuraikan dapat mempercepat dan menyebabkan osteoporosis. Namun demikian dalam naskah ini hanya akan dibahas penyebab osteoporosis sekunder akibat gangguan / penyakit  endokrin atau disebut osteoporosis endokrinopati (2). Adapaun penyakit kelenjar endokrin  yang menyebabkan osteoporosis antara lain: sindroma cushing, tirotoksikosis, akromegali, diabetes melitus, hiperprolaktinemia, hiperparatiroidisme, hipogonadisme pada laki-laki (8).

Sindroma Cushing
    Tanda-tanda dan gejala-gejala sindroma cushing sebagian besar  bersumber dari aksi hormon glukokortikoid.  Mobilisasi jaringan penunjang diperiferi  menyebabkan gejala kelemahan otot, stria kutaneus, gampang luka memar dan osteoporosis.
    Sindroma Cushing umumnya menyebabkan osteoporosis sekunder yang biasanya mengenai tulang vertebra dan menyebabkan kompresi fraktur , fraktur pada panggul dan tulang iga. Adanya peningkatan glukokortikoid pada sindroma cushing maupun akibat pemberian jangka lama glukokortikoid(6-12 bulan) akan menyebabkan penekanan absorpsi kalsium di usus halus, kadar estrogen dalam sirkulasi menurun, meningkatnya ekskresi kalsium oleh ginjal, maturasi osteoblast tertekan, penurunan pembentukan tulang sehingga aktifasi remodelling meningkat dan resorpsi tulang meningkat. Keadaan ini akan mempercepat hilangnya massa tulang (2,14).
Tirotoksikosis
    Terjadinya osteoporosis pada tirotoksikosis yang berat jarang ditemukan. Hal ini disebabkan oleh karena akibat tirotoksikosis yang perlangsungannya berat , pasien akan lebih cepat kedokter dan diagnosis lebih mudah sehingga pasien mendapat pengobatan terhadap tirotoksikosisnya sehingga belum sempat terjadi osteoporosis (10,11,12).


    Pengobatan tirotoksikosis dengan pbat-obat antitiroid terbukti menurunkan resorpsi tulang, meningkatkan 1,25(OH)2 D dalam plasma dan pembentukan tulang akan meningkat(8).
    Berbeda dengan tirotoksikosis yang perlangsungannya ringan atau perlangsungannya tanpa gejala (tirotoksikosis subklinis), perlangsungan dapat bertahun-tahun tanpa diketahui oleh pasien dan proses yang lama ini akan meningkatkan resorpsi tulang, demikian pula ekskresi kalsium dan pospat meningkat dalam urine dan feses sehingga kadar kalsium darah menurun dan menyebabkan sekresi HPT meningkat, resorpsi tulang meningkat, kadar 1,25(OH)2 D menurun  dalam plasma , absorpsi kalsium diusus halus juga menurun (8,12). Hal ini akan lebih cepat terjadi pada pasien wanita pasca menopause (10,12)
    Tidak berbeda jauh dengan tirotoksikosis subklinis yaitu pasien-pasien yang mendapat pengobatan hormon tiroid untuk terapi pengganti (1,6-1,7 ug / kg BB (15). Walaupun jarang memberi gejala klinis tirotoksikosis yang signifikan namun sudah cukup dapat memperberat hilangnya massa tulang terutama pada daerah korteks tulang  pada orang-orang tua atau post-menopause yang pada tahap lanjut akan berakibat fraktur (10, 12,15).


Akromegali
    Akromegali adalah suatu penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan tulang dan jaringan lunak yang berlebihan akibat kelebihan hormon tumbuh (growth hormon). Penyakit ini jarang dan umumnya disebabkan oleh mikro adenoma hipofisis yang fungsionil. Gejala klinik dapat berupa prognatisme, maloklusi, lidah membesar,muka yang spesifik, lapangan pandang yang terganggu dan osteoporosis .
    Dalam keadaan normal hormon tumbuh mempunyai pengaruh positif pada formasi tulang, namun sering dihubungkan antara akromegali /gigantisme dengan osteoporosis (2).
    Adanya osteoporosis pada akromegali hanya ditemukan pada akromegali / gigantisme yang berlangsung lama dan berat dan tidak diobati (2). Gejala klinik  ditandai dengan balans kalsium negatif, hiperkalsiuria menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder. Adanya panhipopituitarisme dan  insufisiensi gonad mungkin sebagai penyebab osteoporosis pada akromegali (12). Pada umumnya keluhan osteoporosis baru terlihat dalam perjalanan stadium lanjut dari akromegali. Dengan perbaikan dan tindakan terhadap akromegali maka osteoporosis tidak terjadi (12).


Diabetes melitus
    Adanya osteoporosis pada diabetes melitus (DM) tipe 1 maupun tipe 2 telah dilaporkan oleh Albright dan Reifeinstein pada 1949 yang ditemukan pada DM yang tidak terkontrol. Hal ini disokong oleh beberapa peneliti antara lain Levin  yang meneliti osteoporosis pada  pasien –pasien DM dengan memakai “photo absorption  method”  dan menyimpulkan  osteoporosis pada DM mulai timbul paling kurang 5 tahun menderita DM (10). Ditemukan penurunan densitas tulang pada Dm tipe 1 sebesar  8 % dan pada DM tipe 2 sebesar 14 %. Insidens osteoporosis pada DM adalah 22 % ditemukan fraktur pada tulang panggul (10). Peneliti lainnya menemukan densitas tulang menurun  pada DM tipe 2 pada pasien dengan hiperinsulinemia (10,11).  Insulin dapat meningkatkan asupan(up-take) asam amine dan sintesis kolagen oleh sel tulang. Disamping itu pasien DM yang tidak terkendali menyebabkan hiperkalsemia,  yang pada tahap berikutnya menyebabkan hormon paratiroid, hipokalsemia dan gangguan metabolisme vitamin D3 . dengan akibat absorbs kalsium di usus berkurang (2,10).
    Penurunan densitas massa tulang disebabkan oleh penurunan 1,25 (OH) 2 D, demikian pula absorpsi kalsium diusus  menurun, ekskresi kalsium dalam urine meningkat menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder dan pada tahap lanjut akan menyebabkan fraktur. Insidens fraktur panggul pada DM berkisar 1,16 – 3,4 % (10).
    Penelitian terakhir dalam jumlah kasus yang cukup besar menemukan metabolisme kalsium pada pasien – pasien DM masih normal dan tidak ditemukan gangguan tulang yang signifikan (11).
Hiperprolaktinemia
    Hiperprolaktinemia adalah suatu keadaan dimana kadar prolaktin meningkat dalam darah yang dapat disebabkan oleh proses fisiologi maupun proses patologis. Dalam keadaan patologis sebagian besar hiperprolaktinoma disebabkan oleh adenoma pada hiopfisis anterior yang mengeluarkan hormon prolaktin berlebih. Manifestasi klinis dapat berupa galaktore yang dapat ditemukan pada wanita maupun pria. Pada wanita selain galatore dapat dijumpai amenore,(30 %) dan pada pria dapat berupa impotensi akibat hipogonadisme. Pada wanita manifestasi klinik dapat terjadi osteoporosis akibat defisieensi hormon estrogen dan pada pria akibat hipogonadisme. Lokasi osteoporosis biasanya ditemukan pada vertebra atau pada tualng-tulang radius (8).
    Pengobatan ditujukan pada penyebabnya yaitu pada hiperprolaktinemia berupa bromocriptine atau tindakan bedah pada prolaktinoma (7).


Hiperparatiroidisme
    Pada hiperparatiroidisme baik primer maupun sekunder merangsang resorpsi tulang terjadi hiperkalsemia yang menyebabakan deposisi kalsium dalam tubuli yang akan berlanjut dengan poliuria, polidipsia, gejala –gejala gastro intestinal, hipotoni (2).
    Hiperparatiroidisme akan menyebabkan defisiensi vit D, “bone turn over” dan remodelling  akibat resorpsi tulang yang meningkat. Pada tahap lanjut dapat terjadi osteoporosis dan fraktur.


Hipogonadisme pada pria
    Hipogonadisme pada pria dapat menyebabkan fraktur vertebra 3-7 % pad, akibat massa tulang pada trabekula dan korteks menurun (8).
    Patogenesis terjadinya osteoporosis pada hipogonadisme pada pria belum diketahui dengan pasti , namun  diduga akibat efek langsung defisiensi androgen atau estrogen, kadar 1,25 (OH)2  D menurun menyebabkan malabsorbsi kalsium  dan kadar kalsitonin menurun(8).
    Diagnosis hipogonadisme pada pria dapat diketahui dengan pemeriksaan hormonal  yaitu dengan pemeriksaan kadar serum testosteron dan gonadotropin. Pengobatan osteoporosis pada hipogonadisme pria lebih ditujukan pada penyebabnya yaiotu dengan pemberian hormonal (8).
Ringkasan
    Osteoporosis sekeunder adalah osteoporoisis yang diketahi penyebabnya. Berbagai keadaan atau penyakit dapat menyebabkan osteoporosis baik dalam keadaan fisiologis maupun patologis. Beberapa penyakit endokrin dapat menyebabkan osteoporosis  yaitu diabetes melitus, tirotoksikosis, hiperprolaktinemia, akromegali, sindroma cushing,  hiperparatiroidisme, hipogonadisme pada pria.
    Pada umumnya terjadinya osteoporosis disebabkna oleh perlangsungan penyakit dasar yang lama yang pada tahp lanjutan menyebabkan,massa tulang menurun, akibat resorbsi tulang meningkat, kadar PTH meningkat,  kadar kalsitonin menurun, absorbsi kalsium diusus menurun  dan ekskresi kalsium meningkat dalam urine.
    Pengobatan osteoporosis  ditujukan pada penyakit penyebabnya disamping pada pasien tertentu dimana usia lanjut atau post menopause diperlukan obat untuk osteoporosisnya




Daftar pustaka

1.Adam,JMF.: Patogenesis osteoporosisNaskah lengkap Simposium Penatalaksanaan Osteoporosis ,hal.1- 8, 1993.

2.Askandar Tjokroprawiro : Pathogenesis and treatment of Endocrinopathic osteoporosis. Simposium osteoporosis: Patofisiologi,Permasalahan, Pencegahan dan Penanggulangannya . Kelompok studi osteoporosis RSUD DR Soetomo-FK>UNAIR Surabaya.24 April 1994: p. 1 – 31.,1994.

3.Christiansen,C.: The Endocrinology of osteoporosis .in Postmenopausal osteoporosis. A Handbook for the Medical profession. National osteoporosis Society and the European Foundation for osteoporosis and Bone disease.1990: p33-35.

4.Conference report. Consensus development conference : Diagnosis, prophylaxis, and treatment of osteoporosis . The Am. Jour. Of Med. .94: p. 646650, 1993.

5.Darmawan,J. Pencegahan rapuh tulang dan terapi nyeri fraktur osteoporosis, Dalam Reumatologi dalam praktek.3 :1991,p1-15.

6.Dempster,DW., Lindsay,R.: Pathogenesis of osteoporosis (science & Practice) The Lancet:341, p.797801,1993.

7.Fitzegerald,PA. Metabolic bone disease. In Tirney,Jr.,LM., Mc Phee,SJ., Papadakis,MA.: Current Medical Diagnosis and Treatment. 35 th ed. A Lange Medical book London.1996 :p.1005-1006.

8.Francis,RM.  The pathogenesis of osteoporosisin Osteoporosis editor: Francis,RM. Kluwer Acad. Publ. Dordrecht.1990. p. 51-99.

9.Francis,RM, Selby,PL., Rodgers,A, Davidson,CE.. The management of osteoporosis. in.: Osteoporosis : Pathogenesis and Management. Cluwer Academic Publ. Dordrecht,Boston, London:1990, p145-169.

10.Kaplan,FS. Osteoporosis in Clinical Si\ymposia.35: p.1-15,1983.

11.Kozak,GP.,Cooppan,R.Diabetes and other endocrinologic disorders.in Joslin ‘s Diabetes mellitus,12th ed. Lea & Febiger Philadelphia.1985: p.808.

12.Krane,SM., Holick,MF.Metabolic bone disease inHarrisons’s Principles of Internal medicine 14 th ed. Vol.2.Mc Graw-Hill, NewYork .  1998 : p.2247-2253.

13.Lindsay,R.Prevention and treatment of osteoporosis.The Lancet. 341 :p. 801  - 804, 1993.

Patogenesis osteoporosis pada laki-laki lansia

0 komentar
  Osteoporosis merupakan penyakit metabolik tulang yang sering dijumpai, dan ditandai dengan penurunan densitas massa tulang sampai dibawah batas ambang fraktur. Osteoporosis pada perempuan pasca menopause sering berhubungan dengan berbagai fraktur seperti kompresi fraktur vertebra, Colles fraktur dan fraktur kolum femoris. Pada kelompok perempuan ini, hubungan antara penurunan densitas massa tulang dan peningkatan risiko fraktur cukup jelas.

   Bila ditinjau menurut kelompok usia, laki-laki dewasa muda lebih sering mengalami fraktur dibandingkan perempuan. Tetapi diatas usia 40-50 tahun keadaan menjadi terbalik dimana perempuan lebih sering mengalami fraktur yang dikaitkan dengan kejadian osteoporosis.

   Selama ini perhatian terhadap osteoporosis pada laki-laki tidak sebaik perhatian terhadap osteoporosis pada perempuan. Kemungkinan karena prevalensinya tidak steinggi pada perempuan. Studi epidemiologis yang ada menunjukkan bahwa 1/7 kasus kompresi fraktur vertebra akibat osteoporosis terjadi pada laki-laki. Demikian pula fraktur kolum femoris yang mempunyai morbiditas dan mortalitas yang tinggi serta dan biaya yang besar, ¼ sampai 1/5 terjadi pada laki-laki.
Proses Penuaan Pada Laki-laki
   Pada tahun 1980, angka harapan hidup orang Indonesia laki-laki adalah 50,9 dan perempuan 54 tahun. Angka tersebut makin meningkat menjadi 62,9 tahun untuk laki-laki dan 66,7 tahun untuk perempuan pada tahun 1995. Walaupun terdapat perbaikan dari angka harapan hidup tersebut, tampaknya tetap saja bahwa laki-laki merupakan seks yang lemah, dengan harapan hidup 5 tahun lebih pendek dibandingkan perempuan.


   Proses menua adalah proses multifaktorial yang akan diikuti oleh penurunan fungsi-fungsi fisiologis organ tubuh yang progresif dan menyeluruh, serta penurunan kemampuan mempertahankan komposisi tubuh dan respon terhadap stress.

   Peran hipo-estrogenemia pada patogenesis menopause dan proses penuaan perempuan tampaknya sudah jelas. Sedangkan kaitan antara androgen dan proses penuaan laki-laki masih controversial. Keberadaan menopause pada laki-laki (andropause) masih diperdebatkan. Berbeda dengan perempuan, pada laki-laki tidak ada perubahan yang drastic seperti halnya perubahan pola haid pada perempuan usia setengah baya. Pada laki-laki usia lanjut, penurunan kadar hormon androgen terjadi secara perlahan dan polanya sangat bervariasi dari satu individu ke individu yang lain. Perubahan ini berakibat pada perubahan fingsi seksual, fisik dan kapasitas hidup.Gejala-gejala seperti rasa cemas, depresi, daya ingat menurun, sukar berkonsentrasi, mudah lelah sulit tidur, rasa panas dimuka, berkeringat hilang timbul, disfungsi seksual juga didapatkan pada keadaan ini.
 
   Dengan proses penuaan laki-laki memperlihatkan penurunan massa otot dan massa tulang serta juga kekuatan otot. Penurunan massa densitas tulang tersebut merupakan predisposisi bagi laki-laki lansia untuk menderita osteoporosis dan fraktur. Selain itu pada proses menua terjadi perubahan distribusi lemak tubuh dari perifer menjadi sentral.


Osteoporosis Pada laki-laki
  Rendahnya insiden osteoporosis pada laki-laki, diduga karena laki-laki mempunyai massa tulang puncak yang lebih tinggi, serta tingkat kehilangan massa tulang kortikal yeng lebih rendah. Disamping itu penurunan massa tulang trabekular pada laki-laki, lebih bersifat penipisan daripada perforasi, sehingga arsitektur tulang masih tetap dipertahankan. Laki-laki juga tidak mengalami menopause seperti pada perempuan sehingga tidak mengalami fase penurunan massa tulang yang cepat.

   Patogenesis terjadinya penurunan massa tulang pada laki-laki belum jelas betul. Kemungkinan disebabkan oleh berkurangnya pembentukan massa tulang dan bukan akibat meningkatnya resorpsi massa tulang.

   Penyebab utama osteoporosis pada laki-laki adalah hipogonadisme, hiperkortilisme dan minum alcohol yang berlebihan. Penyebab lainnya ialah hipertiroidisme dan keganasan. Semua ini berperan pada sekitar 60% osteoporosis pada laki-laki. Sisanya dianggap sebagai osteoporosis idiopatik.


   Hubungan antara hipogonadisme dan osteoporosis pada laki-laki, telah terbukti pada berbagai keadaan hipogonadisme seperti : sindrom Klinefelter, hipogonadisme hipogonadotropik, hipogonadisme hiperprolaktinemia. Terjadinya osteopeni pada laki-laki dengan hipogonadime ini, lebih disebabkan oleh pencapaian densitas massa tulang yang rendah dan bukan sebagai akibat penurunan massa tulang yang terjadi lebih awal. Hipogonadisme juga dianggap sebagai factor risiko osteoporosis pada laki-laki dengan kompresi fraktur tulang vertebra; dan kemungkinan sebagai factor risiko pada fraktur kolum femoris pada laki-laki lansia.

   Perlu diingat sekali lagi bahwa proses penuaan adalah proses multifaktorial dan penurunan hormon-hormon seks hanya merupakan salah satu aspek. Perubahan endokrin lain dalam proses penuaan ialah : penurunan hormon pertumbuhan (GH), IGF-1 dan peningkatan hormon insulin sebagai akibat insulin resisten yang mewarnai proses menua.

   Etah S et al dalam penelitiannya melaporkan bahwa pada laki-laki (24 pasien) dengan osteoporosis idiopatik kadar IGF-1 menurun, dan mungkin berperan pada penurunan densitas massa tulang vertebra. Rendahnya kadar IGF-1 dapat mencerminkan penurunan pembentukan tulang yang diperlihatkan dengan bone-histomophometry. IGF-1 agaknya berperan pada deferensiasi sel osteoblas dan diproduksi local pada tulang. Tulang merupakan sumber IGF-1 kedua setelah hati.

Faktor-faktor Risiko Osteoporosis Pada Laki-laki :

a) Etnik Caucasia, Asia
b) Asupan kalsium yang rendah
c) Kurus
d) Gaya hidup dengan aktivitas fisik kurang
e) Gangguan fungsi gonad
f) Obat, khususnya kortikosteroid
g) Penyakit kronik, immobilisasi
h) Perokok
i) Post reseksi usus
j) Riiwayat keluarga dengan fraktur osteoporosis
k) Intake Na, kafein, protein, fosfat yang berlebih dalam waktu lama

Mengingat patogenesis osteoporosis pada laki-laki belum seluruhnya jelas dan belum ada pengobatan yang betul-betul efektif dapat mencegah fraktur osteoporosis pada laki-laki, upaya pencegahan menjadi sangat penting. Upaya pencegahan tersebut adalah sebagai berikut :
a)Asupan kalsium yang cukup: 1000 mg/hari untuk usia pra remaja dan 
   1500 mg/hari pada  lansia
b)Perhatikan asupan vitamin D terutama bila kurang terpapar pada sinar matahari.
c)Latihan fisik yang teratur
d)Diagnosa dan pengobatan dini bila ditemukan gejala defisiensi androgen
e)Hindari alcohol dan merokok
f)Kenali risiko tinggi
g)Perkecil kemungkinan jatuh


Kesimpulan

1)  Meskipun prevalensi osteoporosis pada laki-laki lansia lebih sedikit daripada perempuan, dampak biaya dan kematian akibat fraktur osteoporotik khususnya fraktur kolum femoris cukup besar.

2) Patogenesis terjadinya osteoporisis laki-laki lansia belum seluruhnya jelas. Androgen,  IGF-1 dan GH berperan terhadap terjadinya osteoporosis idiopatik tersebut.

3) Pencegahan dan dignosis dini sangat penting dalam pengelolaan osteoporosis laki-laki.


Daftar Kepustakaan


1) Eastell R. et al. Management of male osteoporosis : report of the UK Consensus Group. QJM 1998;91:2, 71-92.

2) Etah S. et al. Insulin-like growth factor-1 in men with idiopathic osteoporosis. J Clin Endocrinol Metab 1997;82: 2799-2805.

3) Jackson JA. Osteoporosis in Men. Dalam : Favus MJ editor. Primer on the Metabolic Bone Diseases and Disorders of Mineral Metabolism. Edisi kedua. New York: raven Pers; 1993, p. 255-258.

4) Jacqueline R. center et al. Mortality after all major types of osteoporosis fracture in men and women: an observational study. Lancet 1999; 353:878-882.

5) Orwol ES. Epidemiology and diagnosis of osteoporosis in men. Dalam: Oddens B dan vermeulen A editors. Androgen and the aging male. New York : The Parthenon Publishing Group; 1996, p. 15-37.

6) Seeman E. Do men suffer with osteoporosis? Aust Fam Physician 1997;26:2, 135-43.

7) Setiyohadi B. Pendekatan Klinis Osteoporosis. Makalah Siang klinik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta.

8) Venneulen A. Declining androgen with age: an Overview. Dalam: Oddens B dan vermeulen A editor. Androgen and the aging male. New York: The Parthenon Publishing Group; 1996, p. 3-14.

9) Young Chan Kim. Hormone Deficiency in Aging Men. Dalam: Young-Chan Kim, Hui Meng Tan editor. APSIR Book on Erectile Dysfunction. Edisi pertama. Malaysia : APSIR Pasific Cosmos; 1999, p. 179-198.




Kaki diabetik

0 komentar
    Diabetes  melitus adalah  suatu  penyakit  metabolik  menahun  yang  dapat  menyebabkan  menurunnya  kesegaran jasmani  dengan  segala akibatnya. Prevalensinya  cenderung  meningkat  di dunia  termasuk  Indonesia, baik  dikalangan  masyarakat  yang  mampu  maupun  yang tidak  mampu. Berbagai  komplikasi  kronik  dapat  terjadi  pada penderita diabetes  khususnya  vaskuler  kronik  mikro  maupun  makro angiopati. Komplikasi  vaskuler  kronik  ini semakin meningkat  karena  meningkatnya  harapan  hidup  penderita, disamping  kemajuan  dalam segi diagnosis  dan  penemuan  secara dini  komplikasi  vaskuler  kronik.  Komplikasi  kronik  pada  penderita  DM  berhubungan  erat  dengan  lamanya  diabetes  yaitu  makin  lama  penderita  mengidap  diabetes  semakin  besar  kemungkinannya  mendapatkan  komplikasi  kronik. Salah  satu  komplikasi  yang  sering  ditemukan  adalah  kaki  daibetik, mulai dari  yang  paling  ringan  sampai  yang  paling  berat. Komplikasi  ini  terjadi  oleh  karena  kaki  penderita  diabetes terutama  yang  telah  lama  mengidap  diabetes  umumnya  lebih rentan  terhadap  trauma  dan  infeksi. Infeksi  yang  berulang-ulang  ikut  mempercepat  timbulnya  komplikasi  vaskuler.Pada  kaki  penderita  diabetes cenderung lebih  mudah  mendapat  komplikasi  vaskuler  dan  neuropati,  selanjutnya  mudah  mendapat lesi dan infeksi. Lesi  kecil  dapat  berkembang  menjadi  septikemia  dan  bilamana  hal  ini  dapat terjadi  maka  kemungkinan  salah satu  pilihannya  adalah  amputasi.  infeksi  pada  kaki  penderita  diabetes  merupakan  suatu  problem  yang serius  sehingga  memerlukan  perawatan  yang  intensif.  untuk  dapat  merawat kaki diabetik secara efektif  maka  perlu diketahui  faktor-faktor  yang  mempengaruhi  terjadinya  kondisi  kaki diabetik  sehingga  terapi yang  diberikan bersifat  rasional.


  Selain  itu Penanganan  infeksi  dengan  antibiotik  merupakan  langkah  yang  paling  utama  untuk  menyelamatkan kaki  penderita atau  malah menyelamatkan  jiwa  penderita  jika  terjadi  sepsis. Kaki  diabetik  merupakan  komplikasi  yang  paling  mengesalkan  baik  bagi  penderita  maupun  bagi  dokter  yang  merawatnya. Bagi penderita  selalu  dihubungkan  dengan  biaya  yang  tinggi,  perawatan  yang  lama  dan  kemungkinan  harus amputasi.  sedangkan  dokter  menyadari  betapa  banyak  upaya  dan  yang  diperlukan  dalam  pengobatannya  karena perawatan  yang  lama,  bermacam-macam  komplikasi  yang  mungkin  timbul  bersamaan  dan  hasil  pengobatan  yang  sering  kurang  memuaskan.
Patogenesis.


   Berbagai  kerusakan  jaringan  pada  penderita  DM  sering  terjadi  pada  tungkai  bawah,  mulai  dari  yang sensibilitas, nekrosis  jaringan  sampai  timbulnya  ulkus  yang  makin  meluas  disertai  dengan  infeksi  yang berat. Penyebab  kaki  diabetik  adalah  multifaktor  dimana  ada 3 faktor  utama  yang  berperan  yaitu  faktor vaskuler (iskemik),  neuropati  dan  infeksi. Ketiga  faktor  ini  sering  mempengaruhi  satu  sama  lain.  iskemik dan neuropati  merupakan  faktor  utama  yang memegang  peranan pentiing  pada  permulaan  terjadinya  ulkus  pada  kaki  penderita  diabetik. Infeksi  jarang  sebagai  faktor  tunggal  tetapi  sering  memperberat  setiap  keadaan iskemik  dan  neuropati. Ruda  paksa  yang  kecil  menyebabkan  ulserasi  dan  akan  diikuti  oleh  infeksi.  Infeksi  yang  tidak  diobati  akan  menimbulkan  trombosis    pembuluh  darah  kecil  hal  ini  tentu  akan  memperjelek  lagi  sirkulasi  di daerah  tersumbat.


Faktor  vaskuler

   Gangguan  vaskuler (angiopati)  pada  penderita  diabetes  terdiri  dari makro angiopati dan mikro angiopati  diabetik. Makro angiopati  diabetik  bila  terjadi  pada  pembuluh  darah  besar  seperti  arteri  pada  kaki  sedangkan mikro  angiopati  diabetik  bila  terjadi  pada  pembuluh  darah  kecil  seperti arterial  dan  kapiler  akibat  peningkatan  kadar  glukosa  darah  dan adanya  faktor  resiko  yang  lain  maka  gangguan  pada  arteri  perifer  adalah  empat  kali  lebih  sering  pada  penderita  diabetes  dibandingkan  dengan  non  diabetes. secara umum  makro angiopati  pada  penderita  diabetes  berupa  arteriosklerosis  terjadi  pada  usia  lebih  muda  dan  pembuluh  darah  yang  terkena  lebih  luas  dibandingkan non diabetes.

   Penyebab  pasti  adanya  gangguan  vaskuler  pada  penderita  diabetes  belum  jelas  diketahui  dan  gangguan  vaskuler  ini  merupakan  proses  yang  mempunyai  penyebab  multifaktorial.  Pada  umumnya  dikenal  ada  dua  faktor  yang  berperanan  penting dalam  terjadinya  angiopati  diabetik yaitu  faktor  genetik  dan non  metabolik. Disamping  itu  ada  beberapa  faktor  lain yang  berpengaruh  untuk  timbulnya  angiopati  diabetik antara lain, umur,  lamanya  diabetes, hipertensi, infeksi,  nikotin  dan  beberapa  macam  obat-obatan yang  bersifat  vasokonstriktor.


Faktor  neuropati

   Neuropati  perifer  memegang  peranan  penting  dalam  timbulnya  komplkasi  kaki  pada  penderita DM. Penyebab neuropati  diabetik  diduga  multifaktorial.  Diantara  banyak  teori  mengenai  terjadinya neuropati diabetik,  maka  yang  banyak  mendapat  sorotan  adalah  karena  terjadinya  gangguan  metabolik  dan  gangguan  vaskuler  pada  jaringan  saraf  perifer.  Poineuropati  diabetik  mempunyai  dasar  metabolik  yang  merupakan  kombinasi  antara  defisiensi insulin,  hiperglikemia  dan  kelainan  metabolik  pada  serabut  saraf.  Sedangkan  gangguan  vaskuler  berupa mikroangiopati  dapat  menyerang  sirkulasi  saraf (vasonervorum)  dan menyebabkan  terjadinya  mononeuropati. Neuropati  diabetik  dapat  berupa  gangguan  sensorik,  motorik  dan  otonom.


Faktor  Infeksi

   Ada  yang  menganggap  bahwa  adanya  hiperglikemia  pada  penderita  diabetes  menyebabkan  terjadinya  penurunan  oksigenase  jaringan  sehingga  respon  imun  berkurang  dan  hal  ini  akan memudahkan  bakteri  untuk  berkembang  biak. Ruda  paksa adalah  faktor  pencetus  yang  paling  sering  mendahului  terjadinya  kaki  diabetik,  baik  berupa ruda paksa mekanik ( misalnya  kaki  terantuk  batu atau  kejatuhan  benda  keras).atau trauma oleh zat  kimia  misalnya  terkena  asam  sulfat dari  aki. Lebih-lebih  bila disertai  neuropati  sensorik. Infeksi pada   kaki penderita  diabetes  terutama  bila  disertai  gangguan   vaskuler dan  neuropati sensorik  akan  menyebabkan  selulitis  dan  nekrosis  jaringan. Nekrosis  terjadi  karena  pengaruh  toksin  bakteri  dan  trombosis pada  pembuluh  darah  kecil. Penyebaran  infeksi  yang  lebih  dalam  pada  akhirnya  akan  mengenai  tulang sehingga  terjadi  keadaan  osteomielitis.


Gambaran  klinis

Pada  kaki  dibetik  dapat  timbul  gambaran  klinis  yang  disebabkan  oleh  angiopati, neuropati dan infeksi.

I  Gejala  klinis  yang  disebabkan  oleh angiopati  dapat  berupa  :a. Claudikasio  intermitten  yaitu  nyeri  pada  otot  kaki  sewaktu  bergiat atau  berjalan dan  menghilang  dalamwaktu 1-2 menit setelah kegiatan  dihentikan. Bila penyumbatan  bertambah  berat  maka  terjadi nyeri sewaktu istirahat.b) Kaki  menjadi kemerahan bila dalam  posisi tergantung  dan oleh karena darah  berkumpul  dikaki, terdapat juga   keadaan  dimana kaki tidak berambut lagi  serta  dingin pada  saat perabaan.c) Kaki  menjadi  udem  oleh karena  terjadi hyperfusi  akibat dari meningkatnya  permeabilitas  kapiler.d) Pulsasi arteri dorsalis pedis atau arteri  tibialis posteriordapat  menurun atau hilang.e) Ulkus biasanya  dikelilingi  oleh daerah  kemerahan, ditengahnya  ada  daerah  nekrosis dan disertai  rasa nyeri yang  berfariasi. Lokasi  ulkus  kebanyakan di ibu jari  kaki permukaan medial daerah  metatarsal I, permukaan  lateral  metatarsal V  dan  tumit terdapat  tanda-tanda infeksi  berupa  abses, selulitis, osteomielitis  dan  lebih  jauh  lagi menjadi  gangren.


II Gejala yang  disebabkan oleh neuropati  dapat berupa :


a) Gangguan  sensoris antara lain penurunan atau  hilangnya rasa  getar, suhu, sakit dan penurunan refleks tendon baik pada pergelangan  kaki  maupun  lutut.


b) Gangguan  motorik  berupa kelemahan atau  atropi otot  intrinsik kaki sehingga  memberi deformitas pada kaki  misalnya  jari-jari  kaki seperti  cakar.


c)Gangguan otonom menyebabkan  kulit  kaki  kering, pecah  dan  teraba hangat.


d) Ulkus  biasanya  berlokasi  pada daerah  metatarsal I, ujung jari kaki, bagian atas jari  kaki, diantara jari  kaki  dan  pada tumit.


III Gejala klinis  yang  disebabkan  oleh  infeksi  dapat  berupa :


a) Terdapat  ulkus  yang  disertai  dengan  bau  busuk, krepitasi atau  adanya gas  subkutan dan biasanya  oleh  kuman  anaerob.


b) Pada  infeksi  yang  berat  akan terlihat  tanda-tanda toksisitas sistemik  seperti demam, leukositosis dan malaise.


c) Jadi  pada  kaki diabetik dapat ditemui  beberapa ulkus dengan  manifestasi klinik yaitu  selulitis, abses,  ulkus, osteomielitis dan  gangren.


Diagnosis


   Diagnosis kaki  diabetik ditegakkan  berdasarkan anamnesis, gejala klinis, laboratorium kadar gula darah, biakan kuman dan uji kepekaan , Pemeriksaan radiologis berupa  foto kaki dan arteriograf, serta  pemeriksaan dropler.

Pengobatan

   Pengobatan yang diberikan terhadap penderita  kaki diabetik  meliputi  pengobatan sistemik  dan pengobatan  lokal. Pada pengobatan sistemik dilakukan  pemberian obat antibiotik spektrum luas baik terhadap gram positif maupun gram negatif  dan  juga  terhadap  bakteri  anaerob,  sambil  menunggu  hasil  biakan  dan uji  kepekaan. Disamping  itu  perlu memperbaiki keadaan  umum penderita. untuk pengobatan  lokalnya disesuaikan dengan tingkat kerusakan  dengan  berdasarkan  pada  klasifikasi  Muygit  yaitu  :




a)Tingkat 0 : Penderita  ini belum perlu  satu tindakan, tetapi harus sudah  memeriksakan  diri  pada seorang ahli karena kerusakan kecil ini  dapat merupakan permulaan satu komplikasi.


b) Tingkat 1:Ulkus superfisial,  dilakukan debridement  secara bedah  dan kimia atau enzim, luka ditutup  dengan pembalut yang  tidak melengket, luka  bersih dan luas  dapat ditutup dengan tandur alih kulit.


c) Tingkat 2 :Ulkus  sampai  ke tendo, ligamentum, tulang  atau sendi. Pengobatan pada kaki diabetik tingkat 2 ini perlu debridement. Pengobatan antibiotik yang tepat disesuaikan dengan hasil kepekaan dan uji kepekaan. Dapat dilakukan  irigasi  larutan antiseptik.


d) Tingkat 3: Pengobatan pada tingkat 3 pada prinsipnya  sama dengan tingkat 2, tetapi mungkin lebih radikal debridement, mungkin perlu sampai ke tulang.

e) Tingkat 4: Pada  tingkat  ini  mengenai satu  jari  kaki atau lebih pada taraf  ini disamping debridement mungkin perlu  dilakukan amputasi  jari  kaki, pengobatan antibiotik dan lokal  pada  kaki seperti tingkat 2 dan tingkat 3.

f) Tingkat 5: Terjadi  gangren  kaki, mungkin disertai sepsis, keadaan ini  memerlukan tindakan bedah  yang segera, karena amputasi dapat  menghilangkan  infeksi  lokal, tingginya amputasi tergantung  dari penilaian klinis.

   Disamping  pengobatan  di atas,  ada  cara-cara pengobatan yang belum lazim misalnya continous percutaneus insulin infusion  pada kelainan yang berupa ulkus  dan pengobatan  oksigen hiperbarik pada  penderita  yang mengalami gangren.

Pencegahan

   Penting sekali  untuk memberikan keterangan  kepada penderita  mengenai  hal-hal yang  perlu yang dapat mencegah terjadinya infeksi kaki, antara lain :

1.  Kebersihan kaki 
a) Jangan berjalan  dengan kaki telanjang, sebaiknya menggunakan sepatu atau  sandal  untuk mencegah kakitertusuk benda tajam. Sandal yang dipakai juga harus lembut, tidak  kasar yang mengakibatkan lesi. setiaphari kaki harus dibersihkan dengan sabun dan dikeringkan terutama di sela ibu jari kaki. 

b) Pada kaki yang kering sebaiknya digunakan krim untuk mencegah kulit pecah-pecah. 

c) Potong kuku harus  hati-hati,  perlu perawatan khusus mengingat  luka  pada kaki mudah infeksi. Biasanya perawatan kuku yang baik, penderita  tidak  menggunting  tetapi  menggunakan semacam kikir.d)  Jangan menempatkan kaki ditempat panas karena  penderita diabetes  dengan neuropati kehilangan rasa tidak merasakan  panas.

2. Sepatu, kaos kaki: 
a)  Gunakan  sepatu  yang cocok  untuk kaki. Pada kaki yang lebar sebaiknya menggunakan sepatu yang lebar. pada kasus  tertentu  perlu dibuat  sepatu  yang  khusus  sesuai  dengan  kelainan kaki. 

b) Bila  menggunakan sepatu dalam  jangka  lama sebaiknya  beberapa kali  membuka sepatu untuk  mencegah penekanan sepatu  pada  kaki. 

C) Kaos kaki  sebaiknya  yang  lembut  agar  tidak  memberikan  lecet, tidak  menjepit  pada  kaki agar tidak mengganggu  aliran  darah  ke kaki.

Sumber artikel :

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin oleh PROF. DR. MUH. DALI AMIRUDDIN Sp.KK
Bagian ilmu penyakit kulit  dan kelamin fakultas  kedokteran UNHAS MaKASSAR



Copyright © Dokter Network Angk 97