Tampilkan postingan dengan label Artikel ilmu penyakit kulit dan kelamin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel ilmu penyakit kulit dan kelamin. Tampilkan semua postingan

Dermatitis kontak alergi pada semen

0 komentar
     
    Semen pada dasarnya merupakan suatu campuran dari kapur dan tanah liat yang muncul secara alamiah ditempat-tempat tertentu didunia. Walaupun demikian semen yang komersial juga diproduksi. Semen menurut pembuatannya ada 2 cara yaitu cara kering dan cara basah.  semen portland yang pembuatannya secara basah. Komposisi kimianya terdiri atas :
- Tanah liat
- Batu  kapur
- dan gibsum

     Tanah liat, baru kapur dan gibsum ini merupakan bahan dasar dalam pembuatan semen. Selain itu masih ada unsur-unsur dalam jumlah kecil yaitu Na2O. M9O,  K2O. 
  
     Semen portland mempunyai pH lebih dari 12 sehingga bersifat alkalis yang kuat. Semen dapat menyebabkan dermatitis iritan primer karena kandungan alkalinya yang tinggi. Demikian pula butir-butir silika dalam semen secara mekanis dapat mengiritasi kulit dan menyebabkan dermatitis. Tampaknya efek iritan dan kandungan alkali dari semen mempunyai dampak terhadap perlindungan kulit, dapat membiarkan terjadinya penetrasi dan sensitisasi terhadap dikromat dalam semen. Bahan sensitisasi utama dalam semen adalah dikromat, tetapi logam lain seperti nikel dan kobalt, juga dapat ditemukan. Hipersensitifitas terhadap kobalt dan nikel dapat menyebabkan dermatitis semen dalam suatu kondisi tertentu. Oleh karena itu, uji tempel harus dilakukan tidak hanya dengan dikromat tetapi juga dengan nikel dan kobalt dalam suspek dermatitis semen.

Penyebab dermatitis kontak alergi terhadap semen, yaitu :

1. Krom

   Kromat heksavalen adalah kromat paling kuat yang dapat mensensitisasi karena kelarutannya dan kemampuannya untuk menenmbus kulit. Kromat heksvalen dalam semen adalah penyebab paling sering pada dermatitis kontak alergi, khususnya diantara pekerja-pekerja konstruksi selama lebih dari 3 dekade. Jaegar dan pelloni merupakan orang pertama yang mengetahui peranan kromat sebagai penyebab dermatitis semen. Tidak sperti garam kromium trivalen yang insoluble, kromat heksavalen yang larut dalam air mensensitisasi dan menyebabkan dermatitis kontak alergi. Laporan- laporan sebelumnya telah menunjukkan bahwa kromat heksavalen dalam semen terdapat dalam konsentrasi yang adekuat untuk dapat menyebabkan dermatitis kontak alergi. Di inggris, konsentrasinya dalam semen berkisar antara 10-30 mg/g
dan di Swedia 1-40 mgg. Pada studi ditahun 1985, dilaporkan dari 6 merek semen singapura, konsentrasi kromatnya berkisar antara 3,6-17,7 mg/g.

   Sumber kromat dalam semen tetap kontroversial. Diyakini bahwa sumbernya berasal dari butiran dan abu besi kromium. Johnson dan Calnan menemukan kromat dalam tanah liat, serbuk batu bara dan kapur. Kebanyakan dari kromat tersebut muncul sebagai senyawa kromium trivalen yang tidak dapat larut, tetapi dalam alat pembakaran terkonversi menjadi kromat heksavalen yang larut dalam air.

   Dari pekerja bangunan di Jerman hasil uji tempel adalah 31,9 % positif terhadap potassium kromat. Irvine et al melaporkan prevalensi yang tinggi (17 %) dari alergi kromat diantara pekerja tanah selama pembangunan konstruksi terowongan channel. Dari 65 % penggali yang di uji tempel menunjukkan reaksi yang positif terhadap kromat.

  Selama lebih dari 10 tahun terakhir, terjadi suatu penurunan yang menyeluruh dalam prevalensi alergi kromat diantara pekerja konstruksi. Hal ini dapat merupakan akibat dari penurunan konsentrasi kromat heksavalen dalam sejumlah semen, juga akibat dari penggunaan yang meluas dari ampas besi sebagai pengganti dari karak besi dalam semen pada pertengahan tahun 1980 an. Di swedia dan Denmark, konsentrasi kromat heksavalen dalam semen telah diturunkan dengan menambahkan ferrous sulfat dalam semen.

2. Kobalt

   Logam kobalt bereaksi lambat dengan keringat dan larutan saline netral untuk memberikan ion divalen yang merupakan suatu alergen kuat yang poten. kobalt mempunyai sifat keras, mengandung magnit dan berwarna abu-abu perak. Kobalt terdapat sebagai kontaminan dalam nikel dan keduanya selalu terdapat bersama-sama. Kobalt bentuk murni terdapat dalam bentuk garam dan bentuk oksida, semuanya bersifat sensitizer. Kobalt terdapat pada semen dengan konsentrasi yang rendah ( kurang dari 0,01 %), terdapat pada semen di Eropa dan Belanda. Dilaporkan terdapat 2 orang pekerja Kuba yang alergi terhadap kobalt pada semen. Bila terdapat uji tempel yang positif terhadap kromat dan kobalt, sukar untuk menentukan apakah kobalt yang merupakan faktor utama dari dermatitis kontak alergi semen tersebut.

   Kobalt sering terdapat dalam bentuk campuran bersama dengan nikel atau kromium atau keduanya. Diperkirakan 80 % dari penderita  yang sensitif terhadap kobalt juga  sensitif  terhadap kromat atau nikel. Pada pekerja  bangunan sering bersifat sensitif terhadap krom dan kobalt. Sedangkan pada wanita yang menggunakan perhiasan sering sensitif terhadap nikel dan kobalt.

3. Nikel

   Nikel merupakan penyebab dermatitis kontak alergi tersering dimana wanita lebih banyak dari laki-laki. Garam-garamnya antara lain nikel sulfat (NiSO4) dan nikel klorid, mudah larut dalam air dan mempunyai sifat sensitisasi yang kuat. Oksidanya ( antara lain Ni2O3) dan hidroksidanya (Ni(OH)2) dapat menimbulkan dermatitis kontak alergi.Panas, lembab, keringat dan gesekan akan memperberat dermatitis kontak alergi akibat nikel, karena akan mempermudah sensitisasi sebagai akibat lebih banyak nikel yang larut dalam keringat yang akan diabsorpsi kulit. Difusi nikel melalui epidermis akan berambah karena keringat dan deterjen.

   Nikel dilaporkan sebagai alergen pada pekerja salon, pembuat alat-alat keramik, pekerja bangunan dan pembuat batu bata. Dalam industri digunakan untuk melapisi logam lain misalnya stailess steel ( 8% Ni dan 18% Cr), pelapis emas dan perak yang banyak digunakan sebagai komponen perhiasan dan alat rumah tangga.

   Dari penelitian kuantitatif didapatkan bila seseorang terpapar dengan nikel 0,5 mg/cm2/ minggu mempunyai resiko untuk tersensitisasi dengan nikel. Nikel juga terdapat dalam air dan makanan, makanan yang dapat mengandung nikel antara lain coklat, udang laut, ikan laut dan kerang laut. Mengurangi diet nikel pada makanan, berguna untuk orang yang sensitif terhadap nikel.




Sumber artikel : Buku Ilmu Penyakit Kulit, 
Karya : Prof. DR dr Muhammad Dali Amiruddin Sp.KK (K)
Guru Besar  Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin , Makassar

Penyakit skabies (penyakit gudik, budukan atau gatal agogo)

0 komentar
Oleh :  Prof DR dr Muhammad Dali Amiruddin Sp.KK
           Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran UNHAS


Pendahuluan

      Skabies adalah penyakit menular akibat infestasi dan sensitisasi tungau Sarcoptes Scabiei varian hominis dan peroduknya pada tubuh. Pada populasi yang besar dan padat insidens skabies tinggi oleh karena kemungkinan kontak person besar. Penyakit ini biasa disebut juga the itch, gudik,budukan atau gatal agogo.

      Masa inkubasi skabies bervariasi, dapat beberapa minggu dan dapat berbulan-bulan dengan tanpa menunjukkan gejala, terutama skabies pada orang bersih. Mellanby menunjukkan bahwa proses sensitisasi dimulai pada 2-4 minggu setelah penularan terjadi.Selama waktu itu kutu berada di atas kulit atau sedang menggali terowongan, rasa gatal timbul setelah penderita tersensitisasi ekskreta kutu. Gambaran klinis biasanya sangat bervariasi sehingga kadang menjadi sulit dalam membuat disgnosis, sehingga perlu diketahui teknik diagnostik yang benar.

      Daerah predileksi pada penyakit ini ialah sela jari tangan dan kaki, pergelangan tangan, daerah ketiak,sekitar pusar, paha bagian dalam, bokong dan genitalia. Pada bayi sering berlokasi pada kepala, telapak tangan dan kaki.

Gambaran klinis

        Kelainan klinis pada kulit yang ditimbulkan oleh infestasi sarcoptes scabiei sangat bervariasi, dapat menyerupai dermatitis dengan disertai papula, vesikula, urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Meskipun gambaran klinis penyakitnya bervariasi, kita masih dapat menemukan gambaran klinis berupa keluhan subyektif dan obyektif yang sifatnya spesifik.

     Dikenal ada 4 tanda utama (cardinal singn) pada infestasi skabies yaitu :
1. Pruritus nocturna.
   Adanya gatal hebat pada malam hari, keadaan ini disebabkan oleh meningkatnya aktifitas tungau akibat suhu yang lebih lembab dan panas. Sensai gatal yang hebat seringkali mengganggu pada saat penderita tidur.

2. Sekelompok orang
   Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Perlu diperhatikan di dalam kelompok mungkin ditemukan individu yang hiposensitisasi yaitu individu yang sudah terinfestasi parasit tetapi tidak menunjukkan keluhan klinis, individu tersebut dapat menjadi pembawa atau carrier potensial dan menularkan penyakit tersebut ke individu yang lain.

3. Adanya terowongan (kunikulus atau kanalikuli)
   Kelangsungan hidup sarcoptes scabiei sangat tergantung pada kemampuannya meletakkan telur, larva dan nimfa di dalam stratum korneum, oleh karena itu parasit sangat menyukai bagian kulit yang memiliki stratum korneum yang relatif lebih longgar dan tipis. Terowongan biasanya berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjangnya 1 cm, berwarna putih abu-abu, pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel. Bila ada infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi dan lain-lain).

4. Menemukan Sarcoptes Scabiei
   Apabila kita dapat menemukan kunikulus/terowongan yang masih utuh kemunginan besar kita dapat menemukan tungau dewasa, larfa, nimfa maupun skibala dan ini merupakan hal yang paling diagnotik. Akan tetapi kriteria yang ke empat ini agak sulit ditemukan karena hampir sebagian besar penderita pada umumnya datang dengan lesi yang sangat variatif dan tidak spesifik.

Bentuk klinis skabies
    Selain bentuk skabies yang klasik, terdapat pula bentuk-bentuk khusus, meskipun jarang ditemukan. Kelainan ini dapat menimbulkan kesalahan diagnostik yang berakibat gagalnya pengobatan. Bentuk-bentuk skabies tersebut yaitu :
1. Skabies pada orang bersih
   Kelainan klinisnya berupa adanya lesi berupa papula dan kanalikuli dengan jumlah yang sangat sedikit, kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur.

2. Skabies nodular
   Lesi berupa nodus kecoklatan yang gatal, nodul tejadi akibat reaksi hipersensitivitas terhadap sarcoptes scabiei.Umumnya terdapat pada daerah yang tertutup terutama pada genitalia pria, inguinal dan aksila. Pada nodus yang lama tugau sukar ditemukan, nodus dapat menetap selama beberapa minggu hingga beberapa bulan walaupun telah mendapat pengobatan anti skabies.

3.  Skabies yang ditularkan oleh hewan
   Sarcoptes scabiei varian canis bisa menyerang manusia yang pekerjaannya berhubungan dengan binatang terutama anjing atau kucing. Lesi tidak pada daerah predileksi skabies tipe humanus tetapi pada daerah yang sering berkontak dengan hewan peliharaan, misalnya dada, perut dan lengan. Masa inkubasi jenis ini lebih pendek dan umumnya penyakitnya dapat sembuh sendiri jika penderitanya tidak lagi kontak dengan binatang tersebut.

4. Skabies Norwegian (skabies berkrusta)
   Merupakan skabies berat yang ditandai dengan lesi klinis generalisata berupa krusta dan hiperkeratosis, dengan tempat predileksinya pada kulit kepala yang berambut, telinga, bokong, telapak tangan dan kaki, siku serta lutut. Skabies jenis ini sangat menular, akan tetapi keluhan gatal yang ditimbulkannya bersifat ringan.Bentuk ini dapat ditemukan pada penderita yang mengalami gangguan fungsi imunologik misalnya pada penderita AIDS.

5. Skabies pada bayi dan anak
    Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki dan sering disertai dengan infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan.

Diagnosis

   Bila gejala klinis spesifik, diagnosis skabies mudah ditegakkan, tetapi sering penderita datang dengan lesi yang bervariasi sehingga sulit membuat diagnosis pasti. Pada umumnya diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan ditemukannya dua dari empat cardinal sign yang telah disebutkan di atas yaitu rasa gatal yang khas, terdapatnya erupsi seperti papul, vesikula pada tempat predileksi dan mengenai pada sekelompok orang.Diagnosis pasti ditegakkan bila ditemukan tungau pada daerah lesi. Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk menemukan tungau dan produknya, yaitu :
1. Kerokan kulit
   Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau larutan KOH
10 %, lalu dilakukan kerokan dengan menggunakan skalpel steril yang bertujuan untuk mengangkat atap papula atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan diletakkan di atas gelas objek dan ditutup dengan kaca tutup lalu diperiksa di bawah mikroskop.

2. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)
   Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 10-20 menit kemudian dihapus dengan alkohol, tes dinyatakan positif bila terbentuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis yang menyerupai huruf S.

3. Membuat biopsi irisan
   Lesi dijepit dengan ibu jari dan telunjuk kemudian dengan menggunakan pisau dibuat irisan tipis yang sangat superfisial, hasil irisan ditempatkan pada gelas objek kemudian ditetesi dengan minyak mineral lalu diperiksa di bawah mikroskop.

4. Uji tetrasiklin
   Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin, setelah tetrasiklin  masuk ke dalam kanalikuli lalu kemudian dibersihkan. dan dengan menggunakan  sinar ultraviolet dari lampu Wood, tetrasiklin tersebut akan memberikan fluoresensi kuning keemasan pada kanalikuli.

  Dari berbagai macam pemeriksaan di atas, pemeriksaan kerokan kulit merupakan cara yang paling mudah dengan hasil yang cukup memuaskan. Agar pemeriksaan berhasil baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Kerokan harus dilakukan pada lesi yang utuh yaitu pada papula dan    kanalikuli,
    jangan dilakukan pada tempat dengan lesi yang tidak spesifik.
2. Sebelum lesi dikerok, terlebih dahulu lesi diolesi dengan minyak    mineral.
    Penggunaan minyak mineral sangat menguntungkan, oleh karena tungau dan
    produknya tidak larut, sehingga dapat ditemukan tungau dalam keadaan hidup dan
    utuh.
3. Dilakukan kerokan pada beberapa lesi dengan lebih mengutamakan pada
    tempat predileksi.
4. Oleh  karena tungau berada di stratum korneum maka kerokan harus lebih 
    superfisial dengan tanpa disertai perdarahan.

    Karena sulitnya menemukan tungau maka diagnosis skabies harus dipertimbangkan pada setiap penderita yang datang dengan keluhan gatal yang menetap.

Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan secara umum
   Penderita dianjurkan untuk menjaga kebersihan dengan mandi secara teratur, seluruh pakaian, sprei dan handuk yang digunakan harus dicuci secara teratur bila perlu direndam dengan air panas. Begitu pula dengan anggota keluarga yang beresiko tinggi untuk tertular, agar ikut menjaga kebersihan dan untuk sementara menghindari kontak langsung.

b. Penatalaksanaan secara khusus
   Pemberian pengobatan harus didasarkan atas efikasi, potensi toksisitas dan cara penggunaan obat yang tepat.Pada kondisi skabies terdapat beberapa macam  tindakan pengobatan, yaitu :

1. Sulfur
    Dalam bentuk parafin lunak, padat dan berwarna, dengan konsentrasi
10 %, bila kontak dengan jaringan hidup, preparat ini akan membentuk hidrogen sulfide dan pentathionic acid  yang bersifat germicid dan fungicid. Secara umum sulfur bersifat aman dan efektif bila digunakan dalam konsentrasi 2,5 % pada pengobatan skabies pada bayi. Obat ini digunakan setiap malam hari selama 3 malam, lalu dicuci bersih setelah
24 jam dan bisa diulangi setelah 1 minggu kemudian. Obat ini aman digunakan pada bayi, anak-anak, wanita hamil dan menyusui. Kerugian pemakaian obat ini adalah baunya yang tidak enak, dapat mewarnai pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi.

2. Benzil benzoat
   Merupakan bahan sintesa dari balsem peru, terdapat dalam bentuk emulsi atau losio 25 %. Obat ini pertama kali digunakan pada tahun 1932. Obat ini digunakan pada kulit selama 24 jam dan digunakan sampai hari ke 3. pemakaian obat dapat di ulangi setelah seminggu. Preparat ini efektif dan secara kosmetik bisa diterima walaupun dapat mnimbulkan gatal dan iritasi, karena itu penderita harus diingatkan untuk tidak menggunakannya secara berlebihan.

3. Gamma benzena heksaklorida
   Obat ini tersedia dalam bentuk krim 1 %, lotion dan gel. Obat ini bersifat skabisid atau mematikan kutu (sarcoptes scabies).kirm atau lotio Gamma benzena heksaklorida ini dioleskan di seluruh tubuh dari leher ke bawah selama 12-24 jam. kemudian Kulit dicuci bersih setelah pemakaian.pemberian selanjutnya setelah 1 minggu pengobatan adalah maksimal 2 kali dengan dengan interval 1 minggu. Hal ini bertujuan untuk memusnahkan larva-larva yang menetas yang tidak mati pada pengobatan yang pertama. Penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan efek pada sistem saraf pusat. pada bayi dan anak dapat menimbulkan neurotoksisitas. Obat ini tidak dianjurkan pada ibu yang menyusui, ibu hamil, dan bayi.

4.Permethrin
   Permethrin merupkan sintesa dari Pyrethroid, sifat skabisidnya sangat baik. Obat ini merupakan pilihan pertama dalam pengobatan skabies karena efek toksisitasnya terhadap mamalia sangat rendah dan kecendrungan keracunan akibat salah penggunaannya sangat kecil. Hal ini disebabkan oleh karena hanya sedikit dari obat ini yang terabsorpsi dan obat ini cepat dimetabolisme. Obat ini tersedia dalam bentuk krim 5 %, penggunaannya selama 8-12 jam. Apabila belum sembuh bisa dilanjutkan dengan pemberian kedua setelah satu minggu. Permethrin tidak diberikan pada bayi yang berumur kurang dari 2 bulan, dan juga wanita hamil dan ibu yang menyusui.Efek  samping dari penggunaan obat ini adalah rasa terbakar, perih dan gatal, tetapi ketiga hal ini jarang ditemukan.

5. Crotamiton krim
   Crotamiton krim ini diketahui tidak mempunyai efekifitas yang tinggi terhadap skabies,meskipun demikian obat ini aman digunakan oleh wanita hamil, bayi dan anak kecil. Cara penggunaanya yaitu dengan mengoleskannya pada leher lalu dilanjutkan ke tubuh bagian bawah. Setelah pemakaian kulit dicuci bersih dan sebaiknya obat ini digunakan selama 5 hari berturut-turut untuk memperoleh hasil pengobatan yang lebih baik dibanding hanya 2 hari pemakaian. Efek samping dari obat ini ialah iritasi jika digunakan dalam waktu yang cukup lama.


6. Monosulfiran
   Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, sebelum digunakan harus ditambah    2-3 bagian air dan digunakan setiap hari selama 2-3 hari.

7. Melathion
   Melathion 0,5 %  dapat juga  digunakan dalam pengobatan penyakit    skabies, obat ini digunakan selama 24 jam dan pemberian berikutnya    dilakukan setelah beberapa hari kemudian.

8. Ivermectin
   Ivermectin adalah bahan sintetik yang dihasilkan oleh streptomyces
avermitilis. Obat ini digunakan secara luas pada pengobatan hewan, pada menusia digunakan untuk pengobatan penyakit filarial. Belakangan obat ini diketahui efektif untuk penyakit skabies sehingga dipakai dalam pengobatan penyakit skabies. Obat ini dapat digunakan jika  penderita telah berumur diatas 5 tahun. Dan efek samping yang sering timbul pada penggunaan obat ini ialah kontak dermatitis dan toxic epidermal necrolysis.

Penatalaksanaan skabies krusta
   Terapi skabies bentuk ini mirip dengan bentuk umum lainnya, meskipun pada pengobatan skabies bentuk ini membutuhkan beberapa pengobatan dengan skabesid. Kulit yang diobati meliputi kepala, wajah dan bagian tubuh lainnya. Pengobatan diawali dengan krim permethrin dan jika dibutuhkan diikuti dengan lindane dan sulfur. Mungkin sangat membantu bila sebelum terapi dengan skabisid dilakukan pengobatan dengan keratolitik.

Pengobatan terhadap komplikasi
   Jika terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, penderita diberikan obat antibiotik oral khususnya eritromisin.

Pengobatan simptomatik
   Obat anti pruritus seperti anti histamin dapat juga diberikan untuk mengurangi keluhan gatal pada kulit yang biasanya masih ada setelah penderita diberikan obat anti skabies. dapat juga diberikan triamsinolon 0,1 % untuk mengurangi keluhan.

 





















  


Penyakit Gonore (penyakit menular seksual)

0 komentar
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Trikomoniasis (penyakit menular seksual pada laki-laki dan perempuan)

0 komentar
Oleh : dr Sjaiful Fahmi Daili


Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran    
Universitas Indonesia


Pendahuluan
       Trikomoniasis pada saluran urogenital dapat menyebabkan vaginitis dan sistitis. Walaupun sebagian besar tanpa gejala, akan tetapi dapat menimbulkan masalah kesehatan yang tidak kurang pentingnya, misalnya perasaan dispareunia dan kesukaran melakukan hubungan seksual yang dapat menimbulkan ketidakserasian dalam keluarga. Pada pria dapat menyebabkan uretritis dan prostatitis yang kira-kira merupakan 15 % kasus uretritis non gonore.
Defenisi
       Trikomoniasis adalah infeksi saluran urogenital yang dapat bersifat akut atau kronik dan disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.

Etiologi
        Penyebab trikomoniasis ialah T. vaginalis, yang pertama kali ditemukan oleh DONNE pada tahun 1836. Merupakan flagelata berbentuk filiformis, berukuran 15-18 mikron, mempunyai 4 flagela, dan bergerak seperti gelombang.

        Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memenjang dan dapat hidup dalam suasana pH 5 - 7,5. Pada suhu 50 derajat akan mati dalam beberapa menit, tetapi pada suhu 0 dapat bertahan sampai 5 hari.

        Ada dua spesies lainnya yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu T. tenax yang hidup di rongga mulut dan pentatrichomonas hominis yang hidup dalam kolon, yang pada umumnya tidak menimbulkan penyakit.


Insidens
        Penularan umumnya melalui hubungan kelamin, tetapi dapat juga melalui pakaian, handuk, atau karena berenang. Oleh karena itu trikomoniasis ini terutama ditemukan pada orang dengan aktivitas seksual tinggi, tetapi dapat juga ditemukan pada bayi dan penderita setelah menopause. Penderita wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria.       
    

Patogenesis
         T. vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan subepitel. Masa tunas rata-rata 4 hari sampai 3 minggu. Pada kasus yang lanjut terdapat bagian-bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Neksrosis dapat ditemukan di lapisan subepitel yang menjalar sampai di permukaan epitel. Didalam vagina dan uretra parasit hidup dan sisa-sisa sel, kuman-kuman, dan benda lain yang terdapat dalam sekret.

Gejala klinis
1. Trikomoniasis pada wanita.
    Yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun kronik. Pada kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak dan berbusa.

    Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab. Kadang-kadang terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak sebagai granulasi berwarna merah dan dikenal sebagai strawberry appearance .

    Gejala dispareunia, perdarahan pasca koitus, dan perdarahan intermenstrual dapat juga menyertai keadaan ini.
  
   Bila sekret banyak keluar dapat timbul iritasi pada lipatan paha atau disekitar genitalia eksterna. Selain vaginitis dapat pula terjadi keadaan uretritis, bartholinitis, skenitis dan sistitis yang pada umumnya tanpa keluhan.

   Pada kasus yang kronik, gejala yang timbul biasanya ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa.

2. Trikomoniasis pada laki-laki
    Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang preputium, vesikula seminalis dan epididimis.

  Gambaran klinis trikomoniasis pada laki-laki pada umumnya lebih ringan dibandingkan  dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis nongonore, misalnya disuria, poliuria dan sekret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya jernih, tetapi kadang-kadang terdapat benang-benang halus pada urin.

  Pada bentuk kronik gejalanya biasanya tidak khas dan  mungkin hanya berupa kondisi gatal pada uretra, disuria, dan urin keruh pada pagi hari.

Diagnosis
   Diagnosis kurang tepat bila hanya berdasarkan gambaran klinis, karena T. vaginalis dalam saluran urogenital tidak selalu menimbulkan gejala/keluhan.Uretritis dan vaginitis dapat disebabkan oleh bermacam-macam sebab, karena itu perlu diagnosis etiologik untuk menentukan penyebabnya.

   Untuk mendiagnosa trikomoniasis dapat dipakai beberapa cara, misalnya pemeriksaan mikroskopik sediaan basah, dan sediaan hapus serta pembiakan. Sediaan basah dicampur dengan garam faal dan dapat dilihat pergerakan aktif parasit. Pada pembiakan dapat digunakan bermacam-macam perbenihan yang mengandung serum.

Pengobatan
   Pengobatan dapat diberikan secara topikal atau sistemik.
A  Secara topikal dapat berupa :
1. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrogen peroksida
   1-2 % dan larutan asam laktat 4 %.
2. Bahan berupa suposituria, bubuk yang bersifat trikomonisidal.
3. Jel dan krim, yang berisi zat trikomonisidal.
B  secara sistemik (oral)  
Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol seperti :
1. Metronidazol : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg/hari
                           selama 7 hari.
2. Nimorazol     :  dosis tunggal 2 gram.
3. Tinidazol       :  dosis tunggal 2 gram.
4. Omidazol       :  dosis tunggal 1,5 gram.


Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita, yaitu :
1. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan atau  sebelum
    dinyatakan sembuh.
2. Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan
    transmisi.
3. Pasangan seksualnya juga perlu mendapatkan pengobatan untuk
    menghindari terjadinya fenomena pingpong, dimana penderitanya
    sudah sembuh tetapi karena pasangan seksualnya tidak diobati
    maka ia dapat kembali terinfeksi.

Kepustakaan
1. King, A. and Nicol, C.: Venereal Diseases; Grd ed.,pp 283-290
   (Balliere Tindall, London 1976).
2. Wallin, J and Forgen,A.: Tinidazole-a new preparation for
   T. vaginalis infection. Brit J Vener. Dis. 50:148 (1974).
3. Gree, G.E.: Trichomonas vaginalis in Gram-Stained Smears.
   Brit J Vener. Dis 44:226(1968)
4. Watt,L.:Trichomoniasis. The Practioner 195:148(1965).
5. Josodiwondo,S.:Pemberian omidazole oral 1500 mg dosis tunggal
   untuk trikomoniasis wanita dan beberapa segi yang berhubungan
   dengannya, Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Fakultas
   Kedokteran Universitas Indonesia. (skripsi,1978)


Copyright © Dokter Network Angk 97